Sebagai seorang yang tinggal di kawasan kampung yang pertahanan dan kelangsungan masyarakat yang tinggal di dalamnya masih banyak yang mengandalkan sumber kehidupan dari sawah dan gunung Merapi dan Merbabu, saya cukup beruntung dapat menikmati akses ke dunia maya ini. Tinggal di kampung dengan persawahan yang menghijau memang merupakan sesuatu yang menyejukkan, kalau dibandingkan dengan tinggal di daerah perkotaan. Satu hal yang pasti, kesejukan udara dan kenyamanan bertetangga terutama bagi yang belum berumah tangga seperti saya, amatlah merupakan sebuah keistimewaan.
Seperti yang saya lihat dan saksikan sendiri, bertetangga di dusun saya memang membutuhkan sebuah dana tersendiri. Walaupun kekeluargaan tinggi, yang sering kali disanjung dan diagungkan dalam pendidikan moral di sekolah, bertetangga di kampung haruslah menyiapkan dana cadangan tertentu. Ibu saya kalau sudah memasuki masa masa dimana banyak orang melakukan pernikahan atau kelahiran, musti ekstra ketat mengeluarkan uang pensiunan bapak saya kalau tidak ingin kehabisan. Demikian pula para tetangga sering mengeluhkan hal tersebut.
Oh ya, Kampung saya namanya Sewan. Sebuah kampung yang dimana hanya menjadi sebuah RT saja karena jumlah KK yang kurang dari 60.
Sewan memiliki sebuah legenda yang unik. Asal mula penamaan dari Sewan bermula dari kisah jaman dahulu kala, entah tahun berapa saya juga tidak tahu, ketika belum ada kendaraan bermotor, belum ada juga kereta api dan lain sebagainya. Jikalau orang ingin bepergian, kendaraan yang bisa digunakan hanyalah kereta kuda atau kuda itu sendiri. Nah disinilah keunikan dari dusun Sewan itu.
Terletak dipertemuan dua buah jalan besar yang menghubungkan ke daerah merapi, kampung saya itu menjadi sebuah lokasi yang sangat strategis. Kata para sesepuh, Kampung saya digunakan oleh banyak orang sebagai persewaan kuda untuk mengangkut orang dalam melakukan perjalanan, pedagangan dan sebagainya.
Persewaan Kuda kalau dalam bahasa jawa disebut dengan Sewo Jaran. Nah lama kelamaan Sewo Jaran berubah menjadi dipersingkat alias menjadi Sewan dengan dihilangkan o pada kata Sewo dan Jar pada kata Jaran. Jadilah Sewan nama Kampung ku.
Demikian sejarah singkat Kampung Sewan. Tempat dimana aku tinggal dan dibesarkan. Lain waktu aku akan bercerita tentang kampung Sewan ini lebih lanjut, termasuk dinamikan dan perkembangannya.
Haqiqie Suluh
Recent Comments